Globalisasi
di Zaman Munculnya Imam Mahdi

Ia pasti datang, di suatu pagi hari Jumat
Kegelapan malam akan ia sibak
Dan ia ganti dengan cahaya Ilahi
Ia pasti datang, untuk membangun kota indah nan permai
Yang luasnya melampaui sekat-sekat sejarah
Kota makmur penuh dengan kebijakan dan keadilan
Kehidupan hakiki akan tercipta tanpa pretensi tanpa kepura-puraan
Panji-panji berwarna sama
Hati sanubari dipenuhi dengan kerinduan dan kasih sayang
Ia akan datang, dan membawa semua manusia menuju kota yang penuh harapan
Globalisasi adalah istilah yang akhir-akhir ini sangat sering dikemukakan oleh
para politisi dan kaum cendekiawan. Hampir semua ilmuwan masalah sosial sepakat
bahwa menyatunya bangsa-bangsa dunia menuju sebuah homogenitas adalah sebuah
proses yang tidak bisa dielakkan. Hanya saja, mayoritas ilmuwan juga
menyayangkan proses globalisasi yang lebih bersifat unilateral yang saat ini
menjadi trend di berbagai dunia. Menurut mereka, proses globalisasi sekarang
ini cenderung merupakan rekayasa kekuatan-kekeuatan tertentu dunia yang ingin
menancapkan hegemoninya atas dunia.
Fenomena yang sekarang ini tengah berlangsung memang sangat terlihat tidak
adil. Dunia Barat saat ini tengah melakukan intervensi budaya terhadap
kawasan-kawasan lainnya di dunia, dengan tujuan agar bangsa-bangsa di seluruh
dunia meniru kebudayaan Barat. Sayangnya, budaya yang mereka paksakan itu sama
sekali tidak memiliki nilai universal. Budaya Barat sangat khas Barat, dan
sangat sulit membayangkan akan bisa diterima secara sukarela oleh bangsa-bangsa
lainnya di dunia. Apalagi, saat ini Barat menunjukkan keunggulannya di atas
kawasan lainnya di dunia hanya dari sisi teknologi. Sedangkan dari sudut sosial
yang menjadi simbol utama kebudayaan, Barat saat ini justru sedang mengalami
keruntuhan secara signifikan.
Paham liberal dan sekular yang dianut oleh Barat justru malah membuat ikatan
sosial, khususnya ikatan keluarga, mengalami penghancuran internal secara
sistemastis. Dari sisi ekonomi, liberalisme yang dianut oleh Barat malah
membuat kesenjangan ekonomi di antara kelompok-kelompok sosial dunia semakin
menganga. Demikian juga dengan sekularisme yang telah merenggut spiritualitas
dari kehidupan orang-orang Barat.
Akan tetapi, dengan segala kekurangan dan keburukan yang dimilikinya, Barat
tetap memaksakan proses globalisasi agar berlangsung di dunia dengan budaya
Barat sebagai porosnya. Akhirnya, globalisasi malah menjadi proses distribusi
model-model kesenjangan ekonomi di antara bangsa-bangsa di dunia. Terkait hal
ini, sejumlah ilmuwan dan tokoh politik dunia seperti Presiden Brazil Luiz
Inacio Lula da Silva saat memberikan pidato di depan Majelis Umum PBB beberapa
hari lalu mengatakan bahwa berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komisi PBB,
globalisasi telah menyebabkan gap di antara kelompok kaya dan kelompok miskin
di dunia semakin menganga.
Di bagian lain pidatonya, da Silva mengatakan, “Untuk ke sekian kalinya harus
kami ingatkan bahwa senjata destruksi massal yang paling merusak bumi saat
adalah kemiskinan. Globalisasi yang saat ini tengah berlangsung di dunia, dan
menjadi penyebab semakin banyaknya orang-orang miskin di dunia, seharusnya kita
kontrol dan kita ubah paradigmanya hingga bisa memberikan nilai positif kepada
seluruh penduduk bumi. Kita harus memulai sebuah proses globalisasi baru dengan
paradigmanya yang baru, globalisasi yang membangun pilar-pilar politik dan
sosial yang adil, disertai dengan pemerataan kehidupan ekonomi umat manusia di
seluruh dunia sehingga mereka bisa hidup secara terhormat.”
Apa yang diungkapkan oleh Presiden da Silva itu menunjukkan kepada kita dua
hal. Pertama, globalisasi adalah sebuah fenomena yang tidak bisa dielakkan oleh
umat manusia. Hal ini memang telah ditegaskan oleh para ilmuwan sejak beberapa
abad lalu. Secara fitrahnya, manusia memang memiliki kecenderungan untuk hidup
dengan cara dan budaya yang mirip satu sama lain. Sepanjang sejarah, selalu
saja ada upaya yang dilakukan oleh umat manusia untuk terus melakukan
pendekatan budaya dengan sesamanya. Dan kini, di era informasi ini, proses
pendekatan tersebut semakin terlihat jelas karena hubungan antarbudaya semakin
dimudahkan oleh kemajuan teknologi yang dicapai oleh umat manusia.
Akan tetapi, sebagaimana yang ditegaskan oleh da Silva dalam pidatonya itu, ada
paradigma dan arah yang salah dari proses globalisasi. Globalisasi sekarang ini
tengah dipaksakan oleh Barat, menurut da Silva, malah memperlebar kesenjangan
di antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin dunia. Da Silva memang tidak
menunjukkan solusinya. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa proses globalisasi ini
harus dihentikan dan diganti dengan proses lainnya yang lebih adil sekaligus lebih
terhormat.
Dalam ajaran Islam, kita mengenal kepercayaan terhadap kemunculan Imam Mahdi
a.f. di akhir zaman. Sebagaimana yang dikemukakan dalam sejumlah riwayat, Imam
Mahdi akan muncul untuk menyelamatkan dunia dari jurang kehancuran akibat
meluasnya kezaliman dan ketidakadilan di dunia. Kemudian, beliau akan membentuk
pemerintahan global yang meliputi seluruh dunia, dan pemerintahannya itu kelak
akan didasarkan kepada nilai-nilai keislaman yang adil, terhormat, dan mulia.
Diriwayatkan bahwa pada masa pemerintahan Imam Mahdi, umat manusia akan meniti
jalan hidup kesempurnaannya. umat manusia akan dibimbing oleh Imam Mahdi untuk
menebus berbagai kesalahan dan kekeliruan yang telah dibuat makhluk ini selama
menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Kelak, tidak akan ada orang yang dianggap
rendah hanya karena sifat-sifat fisik seperti warna kulit, ras, atau bangsa.
Nabi Muhamad SAWW saat menyampaikan karakteristik Imam Mahdi itu bersabda,
“Al-Mahdi akan menjadi awal dan akhir dari sebuah konsep dan implementasi
keadilan”
Jika kita telaah konsep yang ada pada ajaran Islam terkait kemunculan Imam
Mahdi di akhir zaman, dan dihubungkan dengan proses globalisasi yang saat ini
tengah secara kencang berhembus di seluruh dunia, kita akan menemukan kaitan
yang sangat erat antara kedua hal tersebut. Para ilmuwan dan tokoh dunia saat
semakin hari semakin diyakinkan oleh fakta bahwa globalisasi adalah sebuah
keniscayaan. Akan tetapi, sangat banyak orang yang mengkhawatirkan dampak
globilasasi yang diatur oleh dunia Barat ini.
Bahwa globalisasi adalah fenomena yang tidak akan terelakkan, Islam juga
meyakini konsep munculnya Imam Mahdi yang kelak akan memimpin dunia secara
global. Dari sisi ini, keniscayaan globalisasi malah mengukuhkan kebenaran
ajaran Islam. Di sisi lain, kekhawatiran atas proses globalisasi masa kini yang
direkayasa menjadi westernisasi itu sebenarnya bisa dijawab oleh keyakinan
Islam tentang kemunculan Imam Mahdi. Makin hari, orang semakin disadarkan oleh
kesempurnaan ajaran Islam yang universal, adil, progresif, sekaligus
menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran Islam yang hakiki tentunya sangat
layak untuk menggantikan berbagai paradigma Barat yang terbukti sarat dengan
kekurangan dan keburukan.
Bagi kita yang meyakini kebenaran ajaran Islam, globalisasi bukanlah sesuatu
yang harus kita tolak. Fenomena ini sebenarnya bahkan sangat selaras dengan
keyakinan kita tersebut. Yang harus kita lakukan adalah ikut memberikan saham
dalam perubahan arah globalisasi yang saat ini tengah berlangsung. Caranya adalah
dengan melakukan hal-hal yang bisa mempercepat kemunculan pemimpin kita di
akhir zaman, yaitu Imam Mahdi a.f.
Esok lusa, pagi hari pasti kembali datang,
Pandangan mata kita masih terus terpaku
Menanti kembalinya sang musafir
Yang telah pergi sekian lama meninggalkan kita
(swara muslim)

0 komentar:
Posting Komentar